Sudah lama sekali saya menyadari pentingnya ajaran para sunan di nusantara yang kita cintai ini, salahsatunya adalah ajaran untuk menabur bu...
Sudah lama sekali saya menyadari pentingnya ajaran para sunan di nusantara yang kita cintai ini, salahsatunya adalah ajaran untuk menabur bunga di kuburan/makam sebagai bentuk etika penghormatan tertinggi kepada para sesepuh yang telah mendahului kita (wafat). Ini adalah wujud kemanusiaan tertinggi, menghormati manusia tidak hanya selama hidup, namun setelah jasad mereka rusak dan mati.
Suatu ketika dikisahkan Nabi mrnanjkapkan prlepah pohon kurma dan mendoakan penghuni kubur. Ya, memang yang ada hanyalah pelepah kurma, mudah didapat kala itu mengingat sang Baginda SAW hidup di tempat gersang, berpasir dan bebatuan yang hanya ditumbuhi beberapa jenis tanaman. Tak ada bunga di sana. Lain cerita disini, tentu kita akan lebih kesulitan menemukan pelepah kurma.
Memang tampak sepele. Dan bagi doktrin aliran sempalan agama mengira bahwa menabur bunga di kuburan sebagai bid'ah atau ajaran yang mengada² diluar sunnah Nabi. Begitu gencarnya doktrin mereka tebarkan sehingga sebagian masyarakat terkini mulai banyak meninggalkan anjuran tersebut.
Saat ini jika melewati makam, hampir rata² kita akan disuguhi pemandangan tumpukan sampah luarbiasa menjijikkan, berbau busuk dan bahkan menyengat. Sangat ironis, ketika mereka masih hidup kita seakan² menghormatinya namun setelah mereka wafat, kita lempari mereka dengan sampah. Betapa kini menjadi bid'ah yang lebih menghinakan.
Beruntung di Banyumas semenjak alih konsep Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) diubah menjadi PDU (Pusat Daur Ulang) dan TPST3R, pembuangan sampah di depan kuburan sudah mulai berhenti, setidaknya berkurang.
Kawan, akal sehat adalah wahyu. Yang semenjak dilahirkan telah dicangkokkan dalam diri setiap orang sebagai operating system untuk menentukan benar dan salah, pantas dan tidak, juga beradab dan biadab. Agama diturunkan untuk mengkonfirmasinya bahwa pelaku kebaikan akan mendapatkan reward (surga) sedang pelaku keburukan akan mendapatkan penalti dan punishment (neraka).
Agama kita mengenal 2 dalil yang semenjak kita awal sekolah dasar dikenalkan ragamnya sebagai Aqli dan Naqli. Aqil berfungsi sbg pengawal Naqli dan Naqli berfungsi sebagai pendamping dan referensi bagi Aqli.
Mari untuk tidak kita sia²kan karunia wahyu yang disebut akal ini. Justru kita bisa disebut manusia karena adanya akal yang membedakan dg makhluk lainnya. Jika tidà k, mungkin ini yang oleh Al Ghazali dikatakan sebagai, "Al Insanu Hayawanu Natiq" (manusia itu adalah binatang yang bercakap²). Juga guru saya sering mengatakan bahwa yang bercakap² itu manusia, sebagian lain tidak bercakap², namun berbunyi.
Lebih jauh lagi, Imam Ja'far Shadiq as mengatakan bahwa "Agama adalah akal. Tidak beragama orang yang tidak menggunakan (karunia) akal." Sebuah sabda agung yang menggarisbawahi ciri manusia di lingkup belantara makhluk lainnya.
Teman, mari kita abaikan badut² agama, yakni orang² yang menolak penggunaan akal sebagai pengawal teks. Karena di setiap agama dan keyakinan, senantiasa ada sekelompok kecil pengagung teks tanpa pemaknaan menggunakan akal. Begitu agung, mewah, benderang dan sempurnanya agama kita. Semewah²nya istana, tidak akan sempurna bila tidak ada toiletnya. "
Taburi kuburan orangtua, sanak dan handai taulanmu dengan bunga dan doa² sebagai tanda cinta dan penghormatan tertinggi ke atas mereka. Itulah yangmembedakan kita dengan binatang. Jangan taburi pusaranya dengan sampah, kotoran kucing atau bahkan mungkin kotoranmu sendiri. Kecuali kalian bukan manusia.
